Musim MotoGP 2026 baru saja dimulai, tapi Francesco “Pecco” Bagnaia justru terlihat kesulitan di Sirkuit Buriram, Thailand. Pembalap andalan Ducati Lenovo Team ini gagal menunjukkan performa terbaiknya, terutung di Sprint Race yang digelar akhir pekan lalu. Bukan karena tidak punya potensi, tapi lebih ke soal adaptasi dan grip motor yang belum maksimal.
Bagnaia hanya finis di posisi kesembilan, hasil yang jauh dari kata memuaskan untuk pembalap dua kali juara dunia. Ia juga gagal lolos ke sesi kualifikasi Q2, menandai awal musim yang cukup berat bagi rider nomor 63 ini. Tapi di balik hasil itu, ada beberapa faktor teknis dan kondisi lintasan yang membuatnya belum bisa tampil maksimal.
Adaptasi Jadi Kunci Performa Bagnaia
Bagnaia mengakui bahwa dirinya masih berjuang keras memahami karakter lintasan di Buriram. Meski sebelumnya sudah melakukan pengujian dengan motor yang sama, kondisi lintasan saat balapan jauh berbeda. Perubahan suhu, grip, dan interaksi dengan ban membuat motor Ducati GP26 belum bekerja optimal.
-
Grip Lintasan Menurun Drastis
- Saat tes pramusim, grip terasa stabil dan konsisten.
- Namun saat balapan, kondisi lintasan jadi lebih licin, terutama di area pengereman dan tikungan cepat.
-
Kondisi Trek Berbeda Saat Balapan
- Banyaknya pembalap di lintasan membuat suhu aspal naik.
- Hal ini memengaruhi kinerja ban dan keseimbangan motor, yang sebelumnya terasa stabil saat tes.
Bagnaia juga menyebut bahwa ia belum menemukan “feeling” terbaik dengan motor. Sensasi saat mengendarai Ducati di sesi latihan bebas berbeda saat harus tampil cepat di kualifikasi atau balapan penuh tekanan. Ini membuatnya kesulitan menjaga ritme konsisten sepanjang 13 lap Sprint Race.
Masalah Teknis Ducati di Sirkuit Buriram
Selain faktor adaptasi pribadi, motor Ducati juga mengalami kendala teknis di Thailand. Salah satu area yang paling bermasalah adalah pengereman. Banyak pembalap Ducati, termasuk Bagnaia, merasa motor terasa sulit dikendalikan saat harus mengerem keras di tikungan.
-
Pengereman Terasa Kurang Responsif
- Saat masuk tikungan cepat, motor terasa “mengambang” dan sulit dihentikan secara optimal.
- Ini membuat pembalap harus mengurangi kecepatan lebih awal, kehilangan waktu berharga.
-
Setup Motor Tak Cocok dengan Kondisi Trek
- Pengembangan motor selama pramusim dilakukan di lintasan dengan karakter berbeda.
- Di Buriram, suhu lebih tinggi dan grip lebih rendah, membuat setup yang ada jadi tidak ideal.
Bagnaia menyebut bahwa motor justru terasa lebih kompetitif saat menggunakan ban bekas dalam simulasi balapan. Tapi saat harus mencatatkan waktu terbaik dalam satu putaran, itulah saat masalah muncul. Ia gagal menembus Q2 karena tidak bisa mengejar gap waktu yang cukup saat kualifikasi.
Kesalahan di Akhir Sprint Race
Di akhir balapan, Bagnaia sempat mencoba naik posisi. Namun, tiga lap menjelang finis, ia melakukan kesalahan saat masuk Tikungan 1. Saat mengerem, motor kehilangan kontrol dan ia harus melebar ke luar lintasan, kehilangan momentum.
Akibatnya, peluang untuk finis di posisi lebih baik pun lenyap. Ia pun harus puas dengan posisi kesembilan dan hanya membawa pulang satu poin. Meski hasil ini jauh dari ekspektasi, Bagnaia tetap menunjukkan sikap tenang dan optimis.
Momentum Awal Menuju Pemulihan
Meski hasilnya belum memuaskan, poin pertama Bagnaia di musim 2026 ini tetap menjadi langkah awal penting. Terakhir kali ia meraih poin di Sprint Race adalah pada MotoGP Malaysia 2025. Artinya, ini adalah awal baru untuk bangkit di balapan utama dan seri-seri berikutnya.
Bagnaia menyadari bahwa musim ini sangat kompetitif. Dengan banyaknya pembalap muda yang tampil konsisten, ia harus segera menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. Tidak hanya soal teknis motor, tapi juga adaptasi diri terhadap kondisi lintasan yang berubah-ubah.
Perbandingan Performa Bagnaia di MotoGP Thailand 2026
| Aspek | Kualifikasi | Sprint Race |
|---|---|---|
| Posisi Finis | Tidak lolos Q2 | Posisi 9 |
| Masalah Utama | Grip dan pengereman | Kehilangan kontrol di tikungan |
| Performa Motor | Kurang optimal saat single lap | Lebih baik saat ban bekas |
| Adaptasi Lintasan | Belum maksimal | Mulai membaik di lap akhir |
Catatan: Data di atas bersifat estimasi berdasarkan laporan balapan dan pernyataan pembalap. Hasil bisa berubah tergantung perkembangan teknis tim dan kondisi lintasan di seri berikutnya.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Bagnaia tetap optimis. Ia menyebut bahwa tim terus bekerja keras untuk memperbaiki setup motor dan menemukan solusi atas masalah grip. Adaptasi adalah kuncinya, dan ia percaya bahwa semakin banyak waktu di lintasan, semakin besar peluang untuk kembali kompetitif.
Namun, tantangan ke depan tetap besar. Dengan jadwal MotoGP 2026 yang padat dan variasi lintasan yang berbeda-beda, Bagnaia harus cepat menyesuaikan diri. Jika tidak, ia bisa tertinggal jauh di klasemen sementara.
Disclaimer
Artikel ini dibuat berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Hasil balapan, kondisi motor, dan pernyataan pembalap bisa berubah seiring perkembangan musim. Data yang disajikan bersifat estimasi dan tidak mengikat.